Sombong tidak membawa kita ke arah yg lebih baik

Marah-marah dengan pramusaji karena tidak cekatan atau pesanan tidak sesuai. Mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan karena merasa bahwa pelanggan adalah yang paling benar.

Berpikir bahwa pengemis adalah malas dan karena itulah mereka miskin.

Berkomentar terhadap artis yg berparas rupawan mempunyai pasangan dengan paras tidak rupawan. ‘Ko bisa ya sama dia, masih mending gue kemana2’

Tiga kasus di atas adalah contoh perbuatan yg bersumber pada kesombongan. Sombong karena kuasa, sombong karena harta dan sombong karena keindahan fisik.

Mari kita umpamakan melihat diri kita dari atas. Manusia>rumah/apartemen>RT>RW>Kelurahan/Desa>Kecamatan>Kabupaten/Kotamadya/Kotif>Provinsi>Pulau>Negara>Benua>Bumi>Tata Surya>Galaksi>Grup Galaksi>Cluster Galaksi>Super Cluster Galaksi>Alam Semesta

Yang berhak sombong adalah bukan kita yg kecil ini tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan Semesta Alam. Jadi kalau sampai terbersit kesombongan dalam diri kita, yuk istighfar.

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS Lukman: 18)

Advertisements

Kecil dapat berarti besar

Seorang teman dengan senyum lebar mendatangi saya dan berkata ‘terima kasih atas bantuannya ya.’ Ia berterima kasih karena saya dianggap telah membantunya dalam proses administrasi ketika istrinya dirawat di rumah sakit. Selama ini saya merasa bahwa apa yang saya kerjakan adalah hal yang kecil. Ternyata dampaknya besar bagi teman saya.

Terkadang sangat mudah menolak untuk berbuat baik. Contohnya kita sedang berada di dalam mobil. Kita mempunyai uang receh. Pengemis datang dan (seringkali) tangan kita refleks memberikan gestur menolak. Padahal uang receh tersebut bisa jadi sangat berarti bagi pengemis tersebut.

Jadi ketika kita mempunyai kesempatan sekecil apa pun untuk menolong orang lain, Yuk kita gunakan kesempatan itu. Mari kita gunakan sisa umur di dunia ini dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bishshawab.

…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa… (QS Al Maaidah: 2)

Positif adalah Bagian dari Negatif

Kita perlu bisa menjaga diri kita sendiri untuk tetap dapat melihat sisi positif yang menyenangkan dari situasi tersulit sekalipun (Happy Book for Happy Parent, Aisya Yuhanida Noor, 2016)

Kalimat di atas mengingatkan saya pada kejadian-kejadian tidak menyenangkan yg saya alami dan bagaimana saya merespon kejadian tersebut. Memang tidak mudah untuk selalu melihat sisi positif dari kejadian tidak menyenangkan. Tetapi sekali lagi itu semua tergantung diri sendiri. Apakah kita mau menyalahkan orang lain atau keadaan atau diri sendiri?

Contohnya sederhana saja. Kena macet di jalan. Ketika saya marah2 dan berkata ‘tahu gitu gue…’ ‘Loe sih….’ ‘Nyesel banget gue lewat sini’ ‘bodoh bgt gue…’ dan perkataan lain yg kurang positif, saya tidak merasa lebih baik.

Stiker mobil adik ipar saya mengatakan (kira2) seperti ini ‘pas kena macet yuk dzikir.’ Hmm sounds cliche. Tp ndk ada salahnya dicoba. Alhamdulillah setelah mencoba beberapa kali, hati terasa lebih tenang. Apakah masih kesal? Ya tetep 🙂 tp jauh lebih reda dibandingkan kalau saya tidak melakukannya.

Jadi yuk kita belajar merespon dg positif atas kejadian yg tidak menyenangkan. Allah pasti punya rencana lebih baik untuk kita di balik kejadian tersebut.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya…” (QS Al Baqarah: 286)

Mencela dan dicela

Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet. Saya tergoda untuk berkomentar, tidak hanya yang positif tetapi juga yang negatif. Contohnya:
“Ya pantaslah kalau dia diberhentikan, lha wong tidak ada gebrakannya.”
“Wah digeser ke posisi yg kurang strategis, pasti tidak cocok dg bosnya ni.”
“Heran ko ya masih dipercaya saja menjadi menteri padahal tidak bisa apa-apa.”
“Siapa dia? Ko bisa jadi menteri? Pasti karena partainya.”

Pada akhirnya saya sadar bahwa pasti tidak mudah untuk menjadi menteri. Belum tentu juga saya bisa lebih baik dari mereka kalau saya jadi menteri. Sudah berghibah, mencela pula…lengkap deh dosanya.

Kalau ada yg berlaku seperti saya, yuk kita sama-sama istighfar dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

Berlomba dalam berbuat kebaikan

Pernahkah berada dalam situasi2 seperti ini?

  • Mau bantu kerabat yang meminjam 500 ribu. Padahal ada uang 500 ribunya. Tapi terlintas di pikiran “hmm nanti gimana kalau gue butuh apa2 ya? Jangan semua deh.” Akhirnya cuma meminjamkan 250 ribu saja.
  • Mau sedekah, tapi di dompet tinggal selembar uang 50 rb dan selembar uang 10 rb. Padahal mau makan siang juga. Nanti kalau sedekah 50 rb, bayar makannya masa cuma 10 rb? ATM ada sih. Cuma males ah jalan ke sananya. Ya udah sedekah 10 rb aja.

Saya pernah. Astaghfirullah…

Tadi pagi alhamdulillah dapat kesempatan belajar istilah Fastabiqul Khairat dari keluarga terdekat. Kalau tidak salah paham, artinya berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Kalau saya hubungkan dengan contoh-contoh kejadian di atas, artinya saya telah menunda untuk berbuat kebaikan atau malah meninggalkan kebaikan. Padahal manusia tidak pernah mengetahui seberapa lama hidup di dunia ini. Manusia tidak pernah tahu sampai kapan mendapat kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Jadi selama ada kesempatan dan masih bernafas 🙂 yuk berbuat baik…

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS: Al Mu’minuun: 61)

Laknat yang Berbalik

If I do not have anything good to say, then I say nothing. It is easier said than done..

Godaan untuk berkomentar buruk tentang orang lain itu sangat besar. Sungguh mudah untuk melihat ‘cela’ orang lain dibandingkan dengan melihat ‘kelebihan’ mereka. Terkadang mencela orang lain (termasuk di dalamnya perbuatan meledek) dilakukan untuk melucu.

“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR Abu Daud)

Yang membuat saya tersentak adalah kata2 “layak dilaknat.” Selama ini, melaknat dilakukan berdasarkan suasana hati saja. Apakah manusia dapat menentukan kelayakan manusia lainnya untuk dilaknat? Menurut saya pribadi, tidak. Hanya Allah yg dapat menentukannya. Nah kalau memang kita tidak dapat, lalu seberapa sering laknat yg kita lakukan terhadap orang lain yang akhirnya berbalik ke kita?

Yuk Istighfar!!

Belajar di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja

Kemarin malam saya mendapatkan kesempatan untuk pulang dengan ojek online. Dalam perjalanan yang sungguh tidak lancar alias macet, akhirnya saya tahu bahwa anak pertama driver tersebut diterima di universitas negeri di Jakarta jurusan bahasa Arab dengan beasiswa penuh. Anak keduanya masuk pesantren juga dengan beasiswa.

Driver tersebut bercerita tentang bagaimana bekerja halal, cara mendidik anak untuk ibadah dan sampai akhirnya driver tersebut menceritakan kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni. Uwais adalah seorang pemuda dari Yaman yang sangat berbakti pada ibunya sehingga dimuliakan Allah SWT. Rasulullah pun menganggap Uwais sebagai salah satu ‘penghuni langit’ dengan kemuliaannya itu.

Di situ hati saya merasa tersentuh. Sebelum bertemu dengan driver ini, saya tidak pernah mendengar tentang Uwais bin ‘Amir Al Qarni. Alhamdulillah ternyata perjalanan macet ada hikmahnya. Tidak perlu berkeluh kesah dan tidak sabar.

Saya dapat menambah pengetahuan tentang agama melalui seorang driver ojek online. Ilmu memang selalu tersedia di sekitar kita asal kita mau belajar. Semua orang dapat menjadi ‘guru’ kita.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al Mujadalah : 11)

Aamiin ya rabbal ‘aalamin