Berlomba dalam berbuat kebaikan

Pernahkah berada dalam situasi2 seperti ini?

  • Mau bantu kerabat yang meminjam 500 ribu. Padahal ada uang 500 ribunya. Tapi terlintas di pikiran “hmm nanti gimana kalau gue butuh apa2 ya? Jangan semua deh.” Akhirnya cuma meminjamkan 250 ribu saja.
  • Mau sedekah, tapi di dompet tinggal selembar uang 50 rb dan selembar uang 10 rb. Padahal mau makan siang juga. Nanti kalau sedekah 50 rb, bayar makannya masa cuma 10 rb? ATM ada sih. Cuma males ah jalan ke sananya. Ya udah sedekah 10 rb aja.

Saya pernah. Astaghfirullah…

Tadi pagi alhamdulillah dapat kesempatan belajar istilah Fastabiqul Khairat dari keluarga terdekat. Kalau tidak salah paham, artinya berlomba-lomba berbuat kebaikan.

Kalau saya hubungkan dengan contoh-contoh kejadian di atas, artinya saya telah menunda untuk berbuat kebaikan atau malah meninggalkan kebaikan. Padahal manusia tidak pernah mengetahui seberapa lama hidup di dunia ini. Manusia tidak pernah tahu sampai kapan mendapat kesempatan untuk berbuat kebaikan.

Jadi selama ada kesempatan dan masih bernafas 🙂 yuk berbuat baik…

“Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS: Al Mu’minuun: 61)

Laknat yang Berbalik

If I do not have anything good to say, then I say nothing. It is easier said than done..

Godaan untuk berkomentar buruk tentang orang lain itu sangat besar. Sungguh mudah untuk melihat ‘cela’ orang lain dibandingkan dengan melihat ‘kelebihan’ mereka. Terkadang mencela orang lain (termasuk di dalamnya perbuatan meledek) dilakukan untuk melucu.

“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri, jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR Abu Daud)

Yang membuat saya tersentak adalah kata2 “layak dilaknat.” Selama ini, melaknat dilakukan berdasarkan suasana hati saja. Apakah manusia dapat menentukan kelayakan manusia lainnya untuk dilaknat? Menurut saya pribadi, tidak. Hanya Allah yg dapat menentukannya. Nah kalau memang kita tidak dapat, lalu seberapa sering laknat yg kita lakukan terhadap orang lain yang akhirnya berbalik ke kita?

Yuk Istighfar!!

Belajar di mana saja, kapan saja dan dengan siapa saja

Kemarin malam saya mendapatkan kesempatan untuk pulang dengan ojek online. Dalam perjalanan yang sungguh tidak lancar alias macet, akhirnya saya tahu bahwa anak pertama driver tersebut diterima di universitas negeri di Jakarta jurusan bahasa Arab dengan beasiswa penuh. Anak keduanya masuk pesantren juga dengan beasiswa.

Driver tersebut bercerita tentang bagaimana bekerja halal, cara mendidik anak untuk ibadah dan sampai akhirnya driver tersebut menceritakan kisah Uwais bin ‘Amir Al Qarni. Uwais adalah seorang pemuda dari Yaman yang sangat berbakti pada ibunya sehingga dimuliakan Allah SWT. Rasulullah pun menganggap Uwais sebagai salah satu ‘penghuni langit’ dengan kemuliaannya itu.

Di situ hati saya merasa tersentuh. Sebelum bertemu dengan driver ini, saya tidak pernah mendengar tentang Uwais bin ‘Amir Al Qarni. Alhamdulillah ternyata perjalanan macet ada hikmahnya. Tidak perlu berkeluh kesah dan tidak sabar.

Saya dapat menambah pengetahuan tentang agama melalui seorang driver ojek online. Ilmu memang selalu tersedia di sekitar kita asal kita mau belajar. Semua orang dapat menjadi ‘guru’ kita.

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS Al Mujadalah : 11)

Aamiin ya rabbal ‘aalamin