Mencela dan dicela

Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet. Saya tergoda untuk berkomentar, tidak hanya yang positif tetapi juga yang negatif. Contohnya:
“Ya pantaslah kalau dia diberhentikan, lha wong tidak ada gebrakannya.”
“Wah digeser ke posisi yg kurang strategis, pasti tidak cocok dg bosnya ni.”
“Heran ko ya masih dipercaya saja menjadi menteri padahal tidak bisa apa-apa.”
“Siapa dia? Ko bisa jadi menteri? Pasti karena partainya.”

Pada akhirnya saya sadar bahwa pasti tidak mudah untuk menjadi menteri. Belum tentu juga saya bisa lebih baik dari mereka kalau saya jadi menteri. Sudah berghibah, mencela pula…lengkap deh dosanya.

Kalau ada yg berlaku seperti saya, yuk kita sama-sama istighfar dan memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Hujurat: 11)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s